in

10 Kebiasaan Buruk yang Bisa Merusak Potensi Startup Kamu

Perilaku buruk yang dapat merusak potensi startup sendiri mirip dengan kondisi ketagihan narkoba, keduanya sama-sama menghancurkan. Tapi bedanya, tindakan sabotase startup tidak akan pernah membuat kamu teler, atau merasakan kebahagiaan sesaat.

Layaknya alkohol dan zat-zat adiktif lainnya, kita rawan jadi kecanduan dan baru menyadari dampaknya ketika sudah terlambat—satu per satu anggota tim mengundurkan diri, investor tidak lagi mengikuti penggalangan dana, konsumen berhenti jadi pelanggan, tanpa terasa sepuluh tahun yang kamu lalui berakhir sia-sia. Sangat sulit untuk membaca tanda-tanda, mencari penyebab dan memecahkan masalah ini.

Di tengah-tengah ketidakpastian, ketidakacuhan, serta ketidakpuasan, apa yang perlu kamu lakukan adalah mengendalikan arah perkembangan startup.

Kamu punya kewajiban kepada pelanggan potensial, anggota tim, partner, dan terutama dirimu sendiri, untuk mencegah tindakan sabotase perusahaan.

Dalam artikel ini, saya akan menjelaskan apa yang dilakukan oleh para pengusaha kenamaan dalam menggerakkan bisnis mereka hingga bisa meraih kesuksesan.

(Pengakuan: saya pernah gagal mengembangkan startup sendiri, serta sama sekali bukan pengusaha sukses. Saya pernah melakukan sejumlah kesalahan yang terdapat pada poin-poin di bawah ini. Oleh karena itu, saya tidak bisa berbagi cara menjadi sukses, tapi saya bisa memberi tahu apa saja yang dapat menghancurkan potensi dari bisnis yang kamu bangun).

Tidak memulai dari akhir

Salah satu momen terpenting dalam kisah Alice in Wonderland adalah ketika Alice menemui percabangan jalan. Ia bertemu Cheshire Cat, dan percakapan berikut ini terjadi:

“Jalan mana yang harus aku tempuh?” tanya Alice.
“Mau pergi ke mana kamu?” Cheshire Cat balas bertanya.
“Aku tidak tahu.”
“Kalau begitu, jalan mana pun yang kamu pilih tidak akan penting.”

Berdasarkan sejumlah riset, para founder yang paling sukses menjalankan bisnis ke arah tujuan akhir yang ingin mereka raih—berdasarkan visi mereka untuk memberikan dampak positif ke masyarakat. Visi mereka biasanya bergantung pada empat faktor:

  • Tren apa yang tengah memiliki pengaruh paling besar.
  • Bagaimana dunia akan berkembang dalam lima tahun ke depan.
  • Masalah apa yang sangat berpengaruh pada masyarakat luas.
  • Peran apa yang ingin kamu lakukan untuk memecahkan masalah tersebut.

Solusi: Sisihkan waktu untuk menegaskan kondisi akhir seperti apa yang ingin kamu raih, dan renungkan tujuan tersebut setiap tiga bulan.

Kurang kritis dalam mempertanyakan asumsi

Apakah kamu menargetkan siapa saja untuk menjadi pelanggan? Apa sudah cukup banyak bukti di dunia yang mendukung ide milikmu? Apakah taktik dan strategi kamu tidak membuat startup berkembang cukup pesat? Jangan-jangan, kamu sedang mengidap bias inovasi.

Ketika memiliki ide-ide baru, kita cenderung hanya memikirkan potensinya. Kita hanya melihat beragam masalah yang bisa dipecahkan, serta bukti-bukti yang mendukung ide kita.

Asumsi-asumsi tersebut membuat kita kelewat optimis, yang sebetulnya menghalangi kemampuan untuk berpikir kritis. Tanpa pikiran kritis, kita kehilangan pandangan akan risiko sebenarnya.

Dengan optimisme, bayangan bagaimana nanti kita bisa mewujudkan mimpi mulai terpikirkan, kemudian dilanjutkan dengan peluncuran produk secara epiktanpa satu pun konsumen. Kamu mungkin mengalami hal ini bila pernah memulai suatu bisnis sendiri.

Solusi: cetak gambar di bawah ini dan tempel di dinding kamarmu.

Know Nothing Jon Snow | Meme

Meme dari serial Game of Thrones tentang karakter Jon Snow yang dianggap terlalu naif.

Setiap hari Jumat, saya menulis asumsi tentang bagaimana ide saya akan terwujud di dunia nyata, dan menetapkan ide mana yang memiliki risiko paling tinggi. Kemudian saya mulai melakukan eksperimen dengan asumsi-asumsi tersebut, seperti ini contohnya.

Kurang berempati

Sebagai pengusaha, kamu harus mampu melihat dari sudut pandang para konsumen, memahami apa yang mereka cari, serta memecahkan masalah-masalah mereka. Dengan kata lain, peranmu adalah menciptakan sesuatu yang membuat kehidupan sehari-hari mereka jadi lebih nyaman. Hal itulah yang membuat mereka menjadi pelanggan.

Bagaimana kamu bisa menciptakan sesuatu yang berharga, bila kamu tidak mampu melihat dari sudut pandang mereka? Bagaimana kamu bisa membeli kado ulang tahun untuk orang yang tidak kamu kenal? Bagaimana kamu bisa menciptakan sesuatu yang berharga untuk seseorang bila kamu tidak berempati pada mereka?

Studi yang dilakukan oleh CB Insights menyebutkan sekitar 42 persen startup gagal karena mereka tidak menciptakan nilai tambah nyata.

Solusi: Berbincanglah dengan para konsumen. Buat koneksi, sisihkan waktu bersama mereka. Bila kamu ingin tahu bagaimana melakukan itu semua, kamu bisa membaca tulisan ini.

Kurang banyak mengalami kegagalan

Ketika menghadapi ketidakpastian, hal terakhir yang ingin kamu lakukan adalah bertindak dalam ketidakpastian. Apakah kamu pernah melakukan suatu hal yang ternyata tidak berjalan baik? Sebagian orang menyebut usaha itu kegagalan, saya menyebutnya sebagai pembelajaran.

Kelihatannya bertentangan, tapi kemajuan berasal dari siklus mencoba, gagal, belajar, yang berlangsung ribuan kali. Hal ini sebenarnya tidak bertentangan, karena ketika sukses, maka kamu juga akan mengalami kemajuan.

Solusi: Stop melakukan persiapan berlebihan. Semua hal yang kamu lakukan adalah berdasarkan keputusan dan asumsimu. Geser fokusmu dari “saya ingin melakukan semuanya dengan benar” menjadi “saya ingin memaksimalkan pembelajaran”.

Pantai dan Laut | Photo

Ilustrasi laut dan pantai

Mencoba menggarami lautan

Kabar seputar startup teknologi disesaki berita-berita tentang nilai valuasi Apple yang telah melewati angka US$1 triliun (Rp15 kuadriliun), suatu startup sharingskuter yang meraih pendanaan hingga US$600 juta (Rp9 triliun), hingga Elon Musk yang dikabarkan mendirikan perusahaan layanan teleportasi (hoaks).

Saya paham bila kamu juga ingin menjadi sosok perubahan selanjutnya. Tapi sejujurnya, pola pikir tersebut hanyalah jalan tercepat untuk kehilangan motivasi dan mengalami kelelahan.

Jalan dari bukan siapa-siapa menjadi sosok luar biasa tak bisa dilalui hanya dengan satu langkah kecil. Perjalanan tersebut butuh berjuta-juta langkah kecil.

Solusi: mulailah dari yang kecil dan simpel. Pecahlah rencana “menguasai dunia” yang kompleks jadi hal-hal kecil yang dapat kamu kelola.

Sibuk kerja tak sama dengan mengembangkan bisnis

Kini sudah ada datanya. Bekerja 24 jam per hari selama seminggu penuh hanya akan membuat lelah dan berpotensi membunuhmu. Semua waktu yang kamu habiskan untuk mengirim email kepada pelanggan, melakukan manajemen mikro, menulis kode program selama berjam-jam, memberi pembaruan kabar pada para investor, mencari investor baru, hingga berdiskusi dengan karyawan yang baru bergabung hanya akan menghancurkan potensi dan kepuasanmu.

Semua aktivitas itu tidak lantas membuatmu bekerja keras untuk membangun bisnis. Kamu hanya bekerja demi menjadi pekerja lepas super sibuk yang punya beberapa asisten.

Kenyataannya, waktu yang kamu miliki sangat berharga, tapi kamu bisa saja menghabiskannya dengan ceroboh. Pertanyaan utama yang penting adalah, apakah saya sudah menciptakan nilai-nilai yang cukup atas waktu yang telah saya investasikan?

Tugasmu sebagai founder bukanlah menjadi sibuk, tapi membuat nilai tambah. Itu saja.

Solusi:

  • Ukur input yang kamu berikan terhadap output yang diperoleh.
  • Pikirkan strategi alternatif untuk mendapatkan output yang kamu inginkan, lalu bandingkan hasilnya dengan taktik sebelumnya.
  • Lakukan analisis pada momen-momen di mana kamu sedang menunggu seseorang atau sesuatu.
  • Temukan perbedaan rasio input/output dari tiap strategi, cari tahu penyebabnya, dan fokuskan usaha pada taktik yang menciptakan nilai tambah maksimal.

Kamu tak perlu tim terhebat

Bila kamu sama seperti saya, orang tuamu mungkin sering mangatakan bahwa kamu adalah yang terhebat. Saya yakin bahwa kamu adalah orang yang punya potensi tinggi. Tapi apa yang bakal terjadi saat jumlah pelanggan perusahaanmu berkembang dari 2 menjadi 200.000 orang?

Bila kamu ingin mengembangkan bisnis yang nyata, kamu hanya perlu menggeser peranmu dari bekerja untuk bisnis menjadi mengelola bisnis. Ini berarti kamu akan membutuhkan tim untuk menjalankan operasional bisnis, sehingga kamu bisa memanfaatkan waktu dan energi untuk kegiatan yang produktif.

Solusi: kelola bisnismu sehingga kamu punya cukup banyak waktu luang yang tak terpikirkan bagaimana akan kamu habiskan. Di waktu tersebut, pikirkan bagaimana kamu bisa menciptakan nilai tambah bagi pelanggan dan posisi-posisi apa yang perlu kamu isi.

Buat daftar orang-orang yang ingin kamu rekrut dan kontak mereka. Kamu tak perlu langsung merekrut mereka bila sedang tak punya bujet, tapi karena waktu sangat berharga, sebaiknya kamu menghubungi mereka secepatnya.

Kurang bertanggung jawab

Manusia tumbuh dan berkembang dengan situasi di mana bila kita melakukan sesuatu yang buruk, seseorang akan menghampiri dan mengatakan bahwa hal yang kita lakukan adalah salah. Tapi bagi pengusaha, hampir tidak ada yang akan mengatakan, “Hei, kamu payah. Stop usaha sia-siamu.”

Di permulaan bisnis, pihak yang akan mengatakan hal itu padamu adalah para konsumen. Mereka tidak akan mengatakannya langsung padamu, mereka hanya tidak membeli produk buatanmu.

Akan ada banyak sinyal yang bisa kamu ambil dari situasi tersebut. Tapi bila kamu kurang memiliki rasa tanggung jawab, kamu tak akan mampu menangkapnya sehingga tetap jadi payah.

Solusi: mulailah kebiasaan untuk mengukur progres dari tiap aktivitas yang kamu lakukan (lihat poin pertama di artikel ini). Dengan begitu, kamu tak memerlukan orang tuamu untuk menasihati agar mulai bertanggung jawab.

Tidak berpikir efektif

Sebagian besar pengusaha mengambil keputusan buruk karena tiga bias:

Bias persiapan

Apa kamu pernah berpikir, andai saya menambahkan satu fitur ini, maka para pelanggan akan senang, atau, saya seharusnya membuatnya lebih menarik sebelum dirilis? Pikiran-pikiran seperti itu membunuh perkembanganmu.

Kita terjebak karena tidak mengutamakan tujuan yang ingin dicapai, apa yang perlu kita pelajari, atau bagaimana kita bisa mempelajarinya sebaik mungkin. Perfeksionis hampir tak pernah (dan saya pikir tak akan pernah) memperoleh kemajuan.

Bias inovasi

Kamu punya sejumlah ide hebat dan orang-orang akan menyukainyahanya saja, sering kali mereka berpikir sebaliknya. Anggapan ini muncul karena kita membayangkan sejumlah masalah akan terpecahkan dengan ide-ide tersebut, yang pada kenyataannya bayangan tersebut sering tidak berpijak dari kenyataan.

Bias terlalu percaya diri

Data yang bertentangan dengan ide-ide, kamu anggap tidak signifikan, ini salah besar. Tapi saya paham, kamu adalah seorang pengusaha, jadi kamu secara alami akan sangat percaya diri dan optimis bahwa data tersebut tidak berarti, sampai akhirnya kenyataan menghampiri.

Solusi:

  • Utamakan proses pembelajaran dibanding mengejar kesempurnaan. Biarkan para pelanggan memberi tahumu apa yang mereka sukai dan tidak, lalu kembangkan.
  • Pergi keluar. Hadapi kenyataan. Gunakan data aktual dari lapangan. Kurangi berasumsi. Lakukan pengetesan lebih sering. Berdiskusilah dengan lebih banyak pelanggan.
  • Pertanyakan semua keyakinan terkait bisnis. Bekerjalah seperti Google X. Cari hal-hal yang tidak mendukung ide kamu.

Growth Chart | Photo

Ilustrasi grafik perkembangan usaha

Berpikir scaling lebih penting dari profit

Apa kamu terburu-buru mengembangkan usaha? Ini bukan salahmu, karena konsensus yang berkembang di dunia startup adalah seperti ini:

Galang uang sebanyak mungkin di masa seed funding, tingkatkan pendapatan, raih dana lebih banyak lagi di pendanaan Seri A, ulangi proses ini di masa pendanaan Seri B hingga G, lalu lakukan IPO atau exit.

Di dunia nyata, kemungkinan skenario itu terjadi sebenarnya cukup mustahil. Hasil studi CB Insights menyatakan dari 1.100 startup yang mendapatkan pendanaan awal (seed funding), hanya 89 di antaranya yang berhasil melakukan exit dengan nilai lebih dari US$50 juta (sekitar Rp760 miliar). Hanya lima di antaranya yang mencapai nilai US$1 miliar (Rp15 triliun).

Bila kamu hendak menggalang dana, hal yang lebih penting adalah berapa besar jumlah pelanggan dibanding unit keekonomian (profit) dari bisnismu. Mengembangkan jumlah pelanggan dari 1.000 menjadi 10.000 orang (meski harus menanggung rugi) lebih diutamakan dibanding mencari cara untuk memperoleh laba terlebih dahulu, baru kemudian mengembangkan usaha.

Tidak ada yang salah dengan mengembangkan bisnis profitabel. Sebaliknya, menggunakan istilah startup sebagai alasan merugi dan menghambur-hamburkan uang adalah hal yang tidak masuk akal. Begitupun tidak ada salahnya jika kamu menggeser fokus dari meningkatkan pendapatan ke meraih laba.

Solusi: Hal terpenting saat mengembangkan usaha adalah mengetahui apakah kamu dapat menekan biaya agar lebih rendah dibanding jumlah pendapatan. Ukur metrik kinerja bisnismu (sebagai permulaan, kamu bisa mengukur berapa dan bagaimana kamu memperoleh pendapatan, dan untuk apa dan bagaimana kamu menghabiskannya), lalu putuskan bagaimana kamu bisa mengembangkan usaha ini.

Saat kamu telah memecahkan problem ini, kamu bisa mulai mengembangkan bisnis. Lalu kamu bisa mulai fokus untuk merekrut lebih banyak angggota tim, menetapkan strategi akuisisi pelanggan, serta fitur-fitur baru pada produk.

Apa saya melakukan semua hal ini pada startup sendiri?

Tentu tidak. Saya memang payah, tapi saya berusaha untuk memperbaiki diri setiap hari. Di saat yang sama, saya juga membantu para pengusaha lain untuk memutarbalikkan praktik-praktik negatif ini menjadi positif dan melihat sendiri perubahannya.

Hasil dari segala usaha ini tidak akan langsung terasa secara instan, tapi tiap perubahan kecil yang kamu lakukan akan membuat dirimu lebih bahagia, stabil, dan makin dekat pada bisnis yang sukses. Startup milikmu memiliki potensi yang lebih besar dibanding apa yang ada di pikiranmu.

Apabila kamu bisa menguasai langkah-langkah ini, kamu bakal bisa mulai mengapresiasi usaha-usahamu, semua potensi yang ada di hadapan, dan dampak yang bisa kamu berikan pada orang lain.

Baca Artikel Startup menarik lainnya hanya di Egg Geek
(Diedit Oleh Aidil Hafizh)

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Written by Aidil Hafizh

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

Comments

0 comments

Bekerja di Startup Buat Kamu Kewalahan? Ini Cara Mudah Mengatasinya

3 Indikator yang Saya Gunakan untuk Mengetahui Kelayakan Bisnis Suatu Startup